Artis Terkenal di Hollywood Ini Gugat Ayah Kandung Atas Tuduhan Mengeksploitasi Nama Besar

via viva.co.id

Serumpi.com – Penyanyi Rihanna menuntut sang ayah ke pengadilan di Amerika Serikat dengan tuduhan mengeksploitasi nama besar Rihanna demi keuntungan bisnis. Rihanna mengklaim ayahnya, Ronald Fenty, bersama mitra bisnisnya memanfaatkan namanya demi kepentingan perusahaan mereka, Fenty Entertainment. Padahal, Rihanna tidak terlibat sama sekali dengan perusahaan tersebut.

Hal ini, disebutkan dalam berkas perkara, dalam berkas tersebut dinyatakan bahwa Rihanna merasa perusahaan sang ayah telah membuat masyarakat salah paham sekaligus telah mencederai merek Rihanna. Sementara itu, Fenty Entertainment tidak segera merespons permintaan untuk menanggapi tuntutan Rihanna.

thesource.com

Dilansir dari viva.co.id lebih lanjut, berkas perkara menyebutkan Rihanna memiliki merek dagang Fenty di AS dan sudah mengirimkan permohonan kepada sang ayah untuk tidak lagi menggunakan merek tersebut.

“Termohon sampai saat ini melanjutkan kesalahan ini demi keuntungan komersial mereka dan menyesatkan publik.”

“Tindakan ini mencederai tak hanya pemohon tapi juga masyarakat luas sehingga perlu adanya intervensi hukum,” sebut berkas perkara. Ronald Fenty, yang menurut Rihanna tidak akur dengannya, mendirikan perusahaan Fenty Entertainment di California pada 2017 dengan Moses Perkins.

Sebuah rilis pers yang dimuat laman perusahaan tersebut menyebutkan bahwa “setidaknya pada Oktober 2018” perusahaan itu diluncurkan “bersama” Rihanna meski nyatanya penyanyi itu tidak terlibat sama sekali.

via Pitchfork

Berkas perkara menyebutkan Fenty Entertainment juga ikut negosiasi agar Rihanna tampil dalam 15 pertunjukan di Amerika Latin untuk bayaran sebesar US$15 juta (Rp211,7 miliar) tanpa seizin Rihanna.

“Meski Tuan Fenty adalah ayah Rihanna, dia tidak mewakili dan tidak pernah punya kewenangan untuk bertindak atas nama Rihanna atau punya hak menggunakan merek Fenty, guna mengeksploitasi reputasi merek Fenty atau berbisnis mengatasnamakannya,” sebut dokumen yang diajukan ke pengadilan.

Tuntutan tersebut menyebutkan tindakan semacam ini melanggar undang-undang periklanan, persaingan, dan privasi sehingga berisiko menyebabkan merek Fenty mengalami “cedera serius tak bisa diperbaiki” jika tidak dihentikan.