Sering Terlewat, 2 Tokoh ini Ternyata Pernah Menjabat Sebagai Presiden Republik Indonesia

via liputan6.com

Serumpi.com – Belakangan ini masyarakat Indonesia tengah disibukkan dengan pesta demokrasi yang melibatkan hampir semua kalangan. Pemilu serentak yang digelar dari Sabang sampai Merauke tersebut dilakukan demi memilih seorang pemimpin yang bisa membawa Indonesia kepada perubahan.

Loading...

Tak heran kalau hiruk pikuk pesta demokrasi masih melekat erat hingga beberapa hari usai gelaran pemilu serentak tersebut. Meski belum ditetapkan siapakah tokoh yang bakal memimpin Indonesia lima tahun ke depan, namun siapapun yang menjadi presiden yang pasti semua masyarakat berharap mereka nantinya bisa memegang amanah sebagai orang nomor satu di Indonesia.

Berbicara perihal presiden, sebagai negara demokrasi Indonesia memang selalu menggelar pemilihan presiden setiap lima tahun sekali. Ada banyak nama-nama yang sudah berhasil menduduki jabatan tersebut. Namun menariknya, dari sekian presiden yang pernah disebutkan, ternyata ada sosok yang nyaris terlewatkan.

Seperti yang dilansir dari liputan6.com, tidak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya, Indonesia memiliki dua Presiden yang terlupakan. Nama mereka terpinggirkan oleh presiden-presiden yang secara resmi memimpin Republik Indonesia.

Baca Juga: Penuh Perjuangan, Sederet Seleb Cantik ini Sukses Selesaikan Skripsi Saat Hamil

Keduanya adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat Datuk Mudo atau Mr. Assaat. Lalu siapakah sebenarnya dua tokoh tersebut? dan kapan mereka menduduki jabatan sebagai orang nomor satu di Indonesia? yuk simak ulasannya!!

1. Sjafruddin Prawiranegara

via republika.com

Tokoh yang dikenal tegas ini pernah menjabat sebagai Presiden sekaligus menteri pertahanan, penerangan, dan luar negeri di masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 22 Desember 1948 sampai 13 Juli 1949.

Sjafruddin mengembalikan pemerintahan kembali pada Ir. Soekarno pada 13 Juli 1949 usai perjanjian Roem-Royen. Meski begitu, dia masih menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri RI di 1949 dan Menteri Keuangan hingga tahun 1950.

Salah satu kebijakan tokoh kelahiran 23 Februari 1911 saat itu adalah pengguntingan uang bernilai 5 rupiah ke atas agar nilainya menjadi separuh. Kebijakan kontroversial tersebut dikenal sampai sekarang dengan julukan Gunting Sjafruddin.

4. Mr. Assaat

via padangkita.com

Mr. Assaat lahir pada 18 September 1904. Jabatannya sebagai Presiden terbilang cukup singkat yaitu dari 27 Desember 1949 hingga 15 Agustus 1950. Kala itu, perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949 mengamanatkan pemerintah Belanda untuk menyerahkan kedaulatan Indonesia kepada pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS).

Dalam sistem pemerintahan RIS, negara ini terdiri dari 16 negara bagian dan salah satunya adalah Republik Indonesia (RI) yang saat itu dipimpin oleh pemangku jabatan presiden sementara, Mr. Assaat. Soekarno dan Hatta sendiri ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden RIS.

Pasalnya, peran yang diemban Assaat adalah penting. Karena apabila RI tidak memiliki pemimpin, RI berarti dianggap ‘hilang’ dalam sejarah bangsa Indonesia. Jabatannya berakhir ketika dunia kembali mengakui kedaulatan RI dan akhirnya RIS dilebur kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 15 Agustus 1950.