Dinilai Lebih Aman, Obat Berbahan Dasar Alami ini Bisa Dijadikan Pengganti Ranitidine

via detikhealth.com

Serumpi.com – Baru-baru ini, BPOM atau Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan mengumumkan kebijakan perihal penarikan obat yang dinilai membahayakan kesehatan. Salah satunya adalah ranitidine, obat pereda lambung yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Pasalnya, obat tersebut memiliki dampak negative yang membahayakan tubuh.

Loading...

Sayangnya, sejauh ini penderita gangguan lambung di Indonesia masih cukup tinggi. Tak heran, kalau pemerintahpun akhirnya mencari alternatif solusi untuk menggantikan ranitidine. Menariknya, obat tersebut justru berbahan dasar alami dan mudah ditemukan.

Baca Juga: Indonesia Dilanda Panas Esktrem, Jangan Lakukan ini Jika Tidak Ingin Kesehatan Terganggu!

Seperti yang dilansir dari healthliputan6.com, Badan POM telah merekomendasikan obat-obatan pengganti Ranitidine dengan obat-obatan berbahan kimia yakni Alumunium hydroxyde, Magnesium hydroxyde, dan Simethicone untuk golongan antasida; lanzoprazol, omeprazol, dan pantoprazole untuk golongan penghambat pompa proton; hingga obat-obatan lain dalam sediaan injeksi.

Menurut Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dr Raymond Tjandrawinata, obat herbal bisa menggantikan obat kimia. Tentunya obat herbal tersebut telah melalui penelitian hingga serangkaian tes untuk dapat menyamai kemampuan obat kimia, seperti Ranitidine.

Obat herbal bukan berarti jamu. Obat yang kami kembangkan ini telah melalui clinical trial sehingga bisa menggantikan Ranitidine,” ujar Dr Raymond.

Obat modern asli Indonesia (OMAI) yang telah dikembangkan Dexa Group melalui DLBS tersebut bernama Redacid (DLBS2411). Redacid terbuat dari bahan alami yang diambil dari kekayaan alam Indonesia.

via hellosehat.com

Redacid terbuat dari fraksi bioaktif dari Cinnamomum burmannii, atau dalam Bahasa Indonesia adalah kayu manis. Kami menggunakan bahan asli Indonesia,” ungkap Dr Raymond.

Menurut Dr Raymond, penciptaan Redacid merupakan era baru obat tradisional karena melibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Teknologi yang digunakan adalah Tandem Chemistry Expression Bioassay System (TCEBS). Teknologi ini digunakan untuk menghasilkan fraksi bioaktif dari kayu manis yang lebih murni dibanding ekstrak biasa.