Ear Candling Therapy, memang keren tapi apakah aman bagi kita ?

maxresdefault

 

Kini ear candling therapy  ( atau terapi lilin telinga) menjadi salah satu tren baru, baik itu di salon  –  salon atau pun juga berbagai media  sosial yang selalu on di smartphone anda, tentu buat anda yang selalu mengikuti tren – tren treatment kesehatan terbaru, hal ini akan sangat menggoda untuk anda coba, baik di salon, maupun anda coba sendiri, melalui lilin ear candling yang anda beli via online . Meskipun terlihat keren dan juga terkesan etnik dan unik , namun sebenarnya apakah terapi semacam ini aman bagi anda ? Yuk, coba kita telusuri keamanan terapi yang kini lagi naik daun ini.

Terapi ear candling dikenal luas dalam satu dekade terakhir, dan menjadi tren baru hampir di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia dalam lima tahun terakhir.  Terapi telinga dengan menggunakan media  lilin ini sebenranya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Diaman dalam prakteknya sebuah paraffin ( lilin ) akan dibakar di dekat telinga, dengan posisi dekat dengan permukaan telinga.

‘’ itu seharusnya berfungsi untuk bisa membantu membersihkan kotoran telinga, dari permukaan dalam telinga, dengan cara menciptakan efek penghisap, sehingga mampu mengeluarkan kotoran – kotroran yang ada di dalamnya.,’’ begitulah kata Roheen Raithatha, MD, seorang ahli Tenggorokan Hidung dan Telinga ( THT )  asal New York Amerika.

Namun ternyata ear candling  tidak selalu bekerja seefektif itu. Banyak penelitian yang mendukung bahwa ear candling tidak selalu bekerja dengan baik, bukan hanya tidak  mampu membersihkan kotoran telinga  dengan maksimal , namun terapi ini juga bisa menjadi berbahaya. Yup kita sedang membicarakan resiko cacat permanen, wow serem ya…

‘’berbagai bahaya dari terapi ear candling, antara lain adalah terbakarnya wajah,rambut, kulit kepala, daun telinga, bahkan gendang telinga, yang bahkan mampu mematikan gendang tersebut’’, tambah Raithatha . ‘’ bahkan terapi ini juga bisa meninggalkan sisa – sisa pembakaran dari lilin yang terdiri dari  paraffin ataupun wax di lubang dan daun telinga, sehingga akan menghalangi  pendengaran kita’’ imbuhnya.

Sementara , seorang ahli THT lainya  dari  mayoclinic, Amerika , Charles W Beatty, MD menyatakan bahwa dalam terapi ini belum tentu kotoran telinga akan keluar, karena bukan tidak mungkin kotoran tersebut  akan masuk lebih dalam lagi, karena tertekan hawa panas lilin  sehingga menyumbat saluran bagian dalam telinga, hal ini beresiko bisa mengakibatkan berkurangnya daya pendengaran kita, bahkan tuli.

Para ahli THT di Amerika menyatakan bahwa ada 3 bahaya besar dalam penggunaan ear candling

  1. Proses terapi yang salah,akan menimbulkan bahaya terbakarnya rambut, wajah, kulit kepala dan juga daun telinga. Yang tentu memilki akibat fatal yakni cedera secara permanen, khususnya di bagian wajah.
  2. Sisa pembakaran dari lilin  ( wax/ paraffin ) akan menumpuk di daun telinga, sehingga  akan mempengaruhi pendengaran kita.
  3. Tersumbatnya, bahkan disfungsi gendang telinga oleh kotoran telinga yang tedorong kedalam atau juga sisa pembakaran lilin yang ikut masuk, akan mengakibatkan  pada gangguan pendengaran secara ekstrem bahkan tuli permanen.

Raihatha dan rekan – rekan nya di American Academy of Otolaryngology, merekomendasikan untuk masyarakat tidak ikut dalam tren terapi ini. Tingkat kesuksesan yang masih dalam tanda Tanya besar serta resiko cacat permanen? Tentu bukan keinginan kita semua bukan ?

Ketika membersihkan telinga  sendiri dengan cotton buds , bukan menjadi solusi bagi   masalah anda, maka menemui seorang ahli ( dokter THT ), untuk mendapatkan keterangan dan penanganan  secara medi, adalah solusi terbaik.

Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak perlu harus  selalu mengikuti/ mencoba semua tren kesehatan dan terapi yang ada, yang  biasa selalu muncul #trending dalam semua blog kecantikan  atau akun instagram favorit anda.